Selasa, 21 Agustus 2012

                              GURU SEJATI


HAKEKAT GURU SEJATI
Melalui 3 langkahnya (Triwikrama) Dewa Wishnu (Yang Hidup), mengarungi empat macam zaman (kertayuga, tirtayuga, kaliyuga, dwaparayuga), lalu lahirlah manusia dengan konstruksi terdiri dari fisik dan metafisik di dunia (zaman mercapada). Fisik berupa jasad atau raga, sedangkan metafisiknya adalah roh beserta unsur-unsur yang lebih rumit lagi. Ilmu Jawa melihat bahwa roh manusia  memiliki pamomong (pembimbing) yang disebut pancer atau guru sejati.  


Pamomong atau Guru Sejati berdiri sendiri menjadi pendamping dan pembimbing roh atau sukma. Roh atau sukma di siram “air suci” oleh guru sejati, sehingga sukma menjadi sukma sejati. Di sini tampak Guru sejati memiliki fungsi sebagai resources atau sumber “pelita”  kehidupan. Guru Sejati layak dipercaya sebagai “guru” karena ia bersifat teguh dan  memiliki hakekat “sifat-sifat” Tuhan (frekuensi kebaikan) yang abadi konsisten  tidak berubah-ubah (kang langgeng tan owah gingsir). Guru Sejati adalah proyeksi dari rahsa/rasa/sirr yang merupakan rahsa/sirr yang sumbernya adalah kehendak Tuhan; terminologi Jawa menyebutnya sebagai Rasa Sejati. Dengan kata lain rasa sejati sebagai proyeksi atas “rahsaning” Tuhan (sirrullah). Sehingga tak diragukan lagi bila peranan Guru Sejati akan “mewarnai” energi hidup atau roh menjadi energi suci (roh suci/ruhul kuddus). Roh kudus/roh al quds/sukma sejati, telah mendapat “petunjuk” Tuhan –dalam konteks ini hakikat rasa sejati– maka peranan roh tersebut tidak lain sebagai “utusan Tuhan”. Jiwa, hawa atau nafs yang telah diperkuat dengan sukma sejati atau dalam terminologi Arab disebut ruh al quds. Disebut juga sebagai an-nafs an-natiqah, dalam terminologi Arab juga disebut sebagai an-nafs al-muthmainah, adalah sebagai “penasihat spiritual” bagi jiwa/nafs/hawa. Jiwa perlu di dampingi oleh Guru Sejati karena ia dapat dikalahkan oleh nafsu yang berasal dari jasad/raga/organ tubuh  manusia. Jiwa yang ditundukkan oleh nafsu hanya akan merubah karakternya menjadi jahat.
Menurut  ngelmu Kejawen, ilmu seseorang dikatakan sudah mencapai puncaknya apabila sudah bisa menemui wujud Guru Sejati. Guru Sejati benar-benar bisa mewujud dalam bentuk “halus”,  wujudnya mirip dengan diri kita sendiri. Mungkin sebagian pembaca yang budiman ada yang secara sengaja atau tidak pernah menyaksikan,   berdialog, atau sekedar melihat diri sendiri tampak menjelma menjadi dua, seperti melihat cermin. Itulah Guru Sejati anda. Atau bagi yang dapat meraga sukma, maka akan melihat kembarannya yang mirip sukma atau badan halusnya sendiri. Wujud kembaran (berbeda dengan konsep sedulur kembar) itu lah entitas Guru Sejati. Karena Guru Sejati memiliki sifat hakekat Tuhan, maka segala nasehatnya akan tepat dan benar adanya. Tidak akan menyesatkan. Oleh sebab itu bagi yang dapat bertemu Guru Sejati, saran dan nasehatnya layak diikuti. Bagi yang belum bisa bertemu Guru Sejati, anda jangan pesimis, sebab Guru Sejati akan selalu mengirim pesan-pesan berupa sinyal dan getaran melalui Hati Nurani anda. Maka anda dapat mencermati suara hati nurani anda sendiri untuk memperoleh petunjuk penting bagi permasalahan yang anda hadapi.
Namun permasalahannya, jika kita kurang mengasah ketajaman batin, sulit untuk membedakan apakah yang kita rasakan merupakan kehendak hati nurani (kareping rahsa) ataukah kemauan hati atau hawa nafsu (rahsaning karep). Artinya, Guru Sejati menggerakkan suara hati nurani yang diidentifikasi pula sebagai kareping rahsa atau kehendak rasa (petunjuk Tuhan) sedangkan hawa nafsu tidak lain merupakan rahsaning karep atau rasanya keinginan.
Sarat utama kita bertemu dengan Guru Sejati kita adalah dengan laku prihatin; yakni selalu mengolah rahsa, mesu budi, maladihening, mengolah batin dengan cara membersihkan hati dari hawa nafsu, dan  menjaga kesucian jiwa dan raga. Sebab orang yang dapat bertemu langsung dengan Guru Sejati nya sendiri, hanyalah orang-orang yang terpilih dan pinilih.

SEDULUR; PAPAT KEBLAT, LIMA PANCER
Atau Keblat Papat,Lima Pancer, di lain sisi diartikan juga sebagai kesadaran mikrokosmos. Dalam diri manusia (inner world) sedulur papat sebagai perlambang empat unsur badan manusia yang mengiringi seseorang sejak dilahirkan di muka bumi.  Sebelum bayi lahir akan didahului oleh keluarnya air ketuban atau air kawah. Setelah bayi keluar dari rahim ibu, akan segera disusul oleh plasenta atau ari-ari. Sewaktu bayi lahir juga disertai keluarnya darah dan  daging. Maka sedulur papat terdiri dari unsur kawah sebagai kakak, ari-ari sebagai adik, dan darah-daging sebagai dulur kembarnya. Jika ke-empat unsur disatukan maka jadilah jasad, yang kemudian dihidupkan oleh roh sebagai unsur kelima yakni pancer. Konsepsi tersebut kemudian dihubungkan dengan hakekat doa; dalam pandangan Jawa doa merupakan niat atau kebulatan tekad yang harus melibatkan unsur semua unsur raga dan jiwa secara kompak. Maka untuk mengawali suatu pekerjaan disebut dibutuhkan sikap amateg aji (niat ingsun) atau artikulasi kemantaban niat dalam mengawali segala sesuatu kegiatan/rencana/usaha).  Itulah alasan mengapa dalam tradisi Jawa untuk mengawali suatu pekerjaan berat  maupun ringan diawali dengan mengucap; kakang kawah adi ari-ari, kadhangku kang lahir nunggal sedino lan kadhangku kang lahir nunggal sewengi, sedulurku papat kiblat, kelimo pancer…ewang-ewangono aku..saperlu ono gawe ….

MENGOLAH GURU SEJATI
Guru Sejati yakni rahsa sejati; meretas ke dalam sukma sejati, atau sukma suci, kira-kira sepadan dengan makna roh kudus (ruhul kudus/ruh al quds). Kita mendayagunakan Guru Sejati kita dengan cara mengarahkan kekuatan metafisik sedulur papat (dalam lingkup mikrokosmos)  untuk selalu waspada dan jangan sampai tunduk oleh hawa nafsu. Bersamaan menyatukan kekuatan mikrokosmos dengan kekuatan makrokosmos yakni papat keblat alam semesta yang berupa energi alam dari empat arah mata angin, lantas melebur ke dalam kekuatan pancer yang bersifat transenden (Tuhan Yang Mahakuasa). Setiap orang bisa bertemu Guru Sejatinya, dengan syarat kita dapat menguasai hawa nafsu negatif; nafsu lauwamah (nafsu serakah; makan, minum, kebutuhan ragawi), amarah (nafsu angkara murka), supiyah (mengejar kenikmatan duniawi) dan mengapai nafsu positif dalam sukma sejati (al mutmainah). Sehingga jasad dan nafs/hawa nafsu lah yang harus mengikuti kehendak sukma sejati untuk menyamakan frekuensinya dengan gelombang Yang Maha Suci. Sukma menjadi suci tatkala sukma kita sesuai dengan karakter dan sifat hakekat gelombang Dzat Yang Maha Suci, yang telah meretas ke dalam sifat hakekat Guru Sejati. Yakni sifat-sifat Sang Khaliq yang (minimal) meliputi 20 sifat. Peleburan ini dalam terminologi Jawa disebut manunggaling kawula-Gusti.

Tradisi Jawa mengajarkan tatacara membangun sukma sejati dengan cara ‘manunggaling kawula Gusti’ atau penyatuan/penyamaan sifat hakikat makhluk dengan Sang Pencipta (wahdatul wujud). Sebagaimana makna warangka manjing curiga; manusia masuk kedalam diri “Tuhan”, ibarat Arya Sena masuk kedalam tubuh Dewaruci. Atau sebaliknya, Tuhan menitis ke dalam diri manusia; curigo manjing warongko, laksana Dewa Wishnu menitis ke dalam diri Prabu Kreshna.
Sebagai upaya manunggaling kawula gusti, segenap upaya awal dapat dilakukan seperti melalui ritual mesu budi, maladihening, tarak brata, tapa brata, puja brata, bangun di dalam tidur, sembahyang di dalam bekerja. Tujuannya agar supaya mencapai tataran hakekat yakni dengan meninggalkan nafsul lauwamah, amarah, supiyah, dan menggapai nafsul mutmainah. Kejawen mengajarkan bahwa sepanjang hidup manusia hendaknya laksana berada dalam “bulan suci Ramadhan”. Artinya, semangat dan kegigihan melakukan kebaikan, membelenggu setan (hawa nafsu) hendaknya dilakukan sepanjang hidupnya, jangan hanya sebulan dalam setahun. Selesai puasa lantas lepas kendali lagi. Pencapaian hidup manusia pada tataran tarekat dan hakikat secara intensif akan mendapat hadiah berupa kesucian ilmu makrifat. Suatu saat nanti, jika Tuhan telah menetapkan kehendakNya, manusia dapat ‘menyelam’ ke dalam tataran tertinggi yakni makna kodratullah. Yakni substansi dari manunggaling kawula gusti sebagai ajaran paling mendasar dalam ilmu Kejawen khususnya dalam anasir ajaran Syeh Siti Jenar. Manunggling Kawula Gusti = bersatunya Dzat Pencipta ke dalam diri mahluk. Pancaran Dzat telah bersemayan menerangi ke dalam Guru Sejati, sukma sejati.

TANDA PENCAPAIAN SPIRITUALITAS TINGGI
Keberhasilan mengolah Guru Sejati, tatarannya akan dapat dicapai apabila kita sudah benar-benar ‘lepas’ dari basyor atau raga/tubuh. Yakni jiwa yang telah merdeka dari penjajahan jasad. Bukan berarti kita harus meninggalkan segala kegiatan dan aktivitas kehidupan duniawi, itu salah besar !! Sebaliknya, kehidupan duniawi menjadi modal atau bekal utama meraih kemuliaan baik di dunia maupun kelak setelah ajal tiba. Maka seluruh kegiatan dan aktivitas kehidupan duniawi sudah tidak dicemari oleh hawa nafsu. Kebaikan yang dilakukan tidak didasari “pamrih”; sekalipun dengan mengharap-harap iming-iming pahala-surga, atau takut ancaman dosa-neraka. Melainkan kesadaran makrokosmos dan mikrokosmos akan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan, hendaklah memposisikan diri bukan sebagai seteruNya, tetapi sebagai “sekutuNya”, sepadan dan merasuk ke dalam gelombang Ilahiah. Kesadaran spiritual bahwa kemuliaan hidup kita apabila kita dapat bermanfaat untuk kebaikan bagi sesama tanpa membeda-bedakan masalah sara. Orang yang memiliki kesadaran demikian, hakekat kehendaknya merupakan kehendak Tuhan. Apa yang dikatakan menjadi terwujud, setiap doa akan terkabul. Ucapannya diumpamakan “idu geni” (ludah api) yang diucapkan pasti terwujud. Kalimatnya menjadi “Sabda Pendita Ratu”, selalu menjadi kenyataan.
Selain itu, tataran tinggi pencapaian “ilmu batin/spiritual” dapat ditandai apabila kita dapat menjumpai wujud “diri” kita sendiri, yang tidak lain adalah Guru Sejati kita. Lebih dari itu, kita dapat berdialog dengan Guru Sejati untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya, petuah dan petunjuknya. Guru sejati berperan sebagai “mursyid” yang tidak akan pernah  bicara omong kosong dan sesat, sebab Guru Sejati sejatinya adalah pancaran dari gelombang Yang Maha Suci. Di sana lah, kita sudah dekat dengan relung ’sastra jendra hayuning rat’ yakni ilmu linuwih, “ibu” dari dari segala macam ilmu,  karena mata (batin) kita akan melihat apa-apa yang menjadi rahasia alam semesta,  sekalipun tertutup oleh pandangan visual manusia maupun teknologi.
Tanda-tanda pencapaian itu antara lain, kadang seseorang diizinkan Tuhan untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang, melalui vision, mimpi, maupun getaran hati nurani. Semua itu dapat merupakan petunjuk Tuhan. Maka tidak aneh apabila di masa silam nenek moyang kita, para leluhur bumi nusantara yang memperoleh kawaskitan, kemudian menuangkannya dalam berbagai karya sastra kuno berupa; suluk, serat, dan jangka atau ramalan (prediksi). Jangka atau prediksi diterima oleh budaya Jawa sebagai anugerah besar dari Tuhan, terkadang dianggap sebagai peringatan Tuhan, agar supaya manusia dapat mengkoreksi diri, hati-hati, selalu eling-waspadha dan melakukan langkah antisipasi.

PENTINGKAH GURU SEJATI ?
Peran Guru Sejati sudah jelas saya paparkan di awal pembahasan ini. Namun demikian perlu kami kemukakan betapa pentingnya Guru Sejati dalam kehidupan kita yang penuh ranjau ini. Perahu kehidupan kita berlabuh dalam samudra kehidupan yang penuh dengan marabahaya. Kita harus selalu eling dan waspadha, sebab setiap saat kemungkinan terburuk dapat menimpa siapa saja yang lengah. Guru Sejati akan selalu memberi peringatan kepada kita akan marabahaya yang mengancam diri kita. Guru Sejati akan mengarahkan kita agar terhindar dari malapetaka, dan bagaimana jalan keluar harus ditempuh. Karena Guru Sejati merupakan entitas zat atau energi kebaikan dari pancaran cahaya Illahi, maka Guru Sejati memiliki kewaskitaan luarbiasa. Guru Sejati sangat cermat mengidentifikasi masalah, dan memiliki ketepatan tinggi dalam mengambil keputusan dan jalan keluar. Biasanya Guru Sejati “bekerja” secara preventif antisipatif, membimbing kita agar supaya tidak melangkah menuju kepada hal-hal yang akan berujung pada kesengsaraan, malapetaka, atau musibah.

ANASIR ASING
Konsep tentang guru sejati sebagaimana ajaran Jawa, dapat ditelusuri melalui konsep sedulur papat lima pancer, dalam konsep pewayangan yang makna dan hakikatnya dapat dipelajari sebagaimana tokoh dalam Pendawa Lima (lihat dalam tulisan Pusaka Kalimasadha). Namun demikian, dalam perjalanannya mengalami pasang surut dan proses dialektika dengan anasir asing yakni; Hindu, Budha, Arab. Leluhur bangsa kita memiliki karakter selalu positif thinking, toleransi tinggi, andap asor. Sehingga nenek moyang kita, para leluhur yang masih peduli dengan kearifan lokal, secara arif dan bijaksana mereka tampil sebagai penyelaras sekaligus cagar kebudayaan Jawa. Setelah Islam masuk ke Nusantara, ajaran Kejawen mendapat anasir Arab dan terjadi sinkretisme, sedulur papat keblat kemudian diartikan pula sebagai empat macam nafsu manusia yakni nafsu lauwamah (biologis), amarah (angkara murka), supiyah (kenikmatan/birahi/psikologis), dan mutmainah (kemurnian dan kejujuran). Sedangkan ke lima yakni pancer diwujudkan dalam dimensi nafsu mulhimah (sebagai pengendali utama atau tali suh atas keempat nafsu sebelumnya. Konvergensi antara Kejawen dengan tradisi Arab disusunlah klasifikasi sifat-sifat nafsu jasadiah di atas dengan diaplikasikan ke dalam lambang aslinya yakni tokoh wayang; 1. Lauwamah = Dosomuko, 2. Amarah = Kumbokarno, 3. Supiyah = Sarpo Kenoko, 4. Mutma’inah = Gunawan Wibisono.
Tulisan ini saya persembahkan kepada seluruh pembaca yang budiman sebagai penambah referensi dan informasi untuk generasi bangsa. Karena kita sadari sulitnya mendapatkan referensi sehingga seringkali dalam beberapa pembahasan maknanya menjadi salah kaprah. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi siapapun, walau sedikit dan masih banyak kekurangan di sana-sini. Rahayu; sabdalangit
Rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwa Ting Diyu.
Dalam lakon wayang Purwa, kisah Ramayana bagian awal diceritakan asal muasal keberadaan Dasamuka atau Rahwana tokoh raksasa yang dikenal angkara murka, berwatak candala dan gemar menumpahkan darah. Dasamuka lahir dari ayah seorang Begawan sepuh sakti linuwih gentur tapanya serta luas pengetahuannya yang bernama Wisrawa dan ibu Dewi Sukesi yang berparas jelita tiada bandingannya dan cerdas haus ilmu kesejatian hidup. Bagaimana mungkin dua manusia sempurna melahirkan raksasa buruk rupa dan angkara murka ? Bagaimana mungkin kelahiran “ sang angkara murka “ justru berangkat dari niat tulus mempelajari ilmu kebajikan yang disebut Serat Sastrajendra.
Ilmu untuk Meraih Sifat Luhur Manusia.
Salah satu ilmu rahasia para dewata mengenai kehidupan di dunia adalah Serat Sastrajendra. Secara lengkap disebut Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwatingdiyu. Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan. Pengertiannya bahwa Serat Sastrajendra adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.
Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan). Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.
Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).
Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu.
Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.
Sifat Manusia Terpilih.
Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “
Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”
Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.
Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”
Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa.
“ Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia”
Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “ Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.
Betara Narada mengatakan “ Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.
Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.
Nun jauh, negeri Ngalengka yang separuh rakyatnya terdiri manusia dan separuh lainnya berwujud raksasa. Negeri ini dipimpin Prabu Sumali yang berwujud raksasa dibantu iparnya seorang raksasa yang bernama Jambumangli. Sang Prabu yang beranjak sepuh, bermuram durja karena belum mendapatkan calon pendamping bagi anaknya, Dewi Sukesi. Sang Dewi hanya mau menikah dengan orang yang mampu menguraikan teka teki kehidupan yang diajukan kepada siapa saja yang mau melamarnya. Sebelumnya harus mampu mengalahkan pamannya yaitu Jambumangli. Beribu ribu raja, wiku dan satria menuju Ngalengka untuk mengadu nasib melamar sang jelita namun mereka pulang tanpa hasil. Tidak satupun mampu menjawab pertanyaan sang dewi. Berita inipun sampailah ke negeri Lokapala, sang Prabu Danaraja sedang masgul hatinya karena hingga kini belum menemukan pendamping hati. Hingga akhirnya sang Ayahanda, Begawan Wisrawa berkenan menjadi jago untuk memenuhi tantangan puteri Ngalengka.
Pertemuan Dua Anak Manusia.
Berangkatlah Begawan Wisrawa ke Ngalengka, hingga kemudian bertemu dengan dewi Suksesi. Senapati Jambumangli bukan lawan sebanding Begawan Wisrawa, dalam beberapa waktu raksasa yang menjadi jago Ngalengka dapat dikalahkan. Tapi hal ini tidak berarti kemenanmgan berada di tangan. Kemudian tibalah sang Begawan harus menjawab pertanyaan sang Dewi. Dengan mudah sang Begawan menjawab pertanyaan demi pertanyaan hingga akhirnya, sampailah sang dewi menanyakan rahasia Serat Sastrajendra. Sang Begawan pada mulanya tidak bersedia karena ilmu ini harus dengan laku tanpa “ perbuatan “ sia sialah pemahaman yang ada. Namun sang Dewi tetap bersikeras untuk mempelajari ilmu tersebut, toh nantinya akan menjadi menantunya.
Luluh hati sang Begawan, beliau mensyaratkan bahwa ilmu ini harus dijiwai dengan niat luhur. Keduanya kemudian menjadi guru dan murid, antara yangf mengajar dan yang diajar. Hari demi hari berlalu keduanya saling berinteraksi memahamkan hakikat ilmu. Sementara di kayangan, para dewata melihat peristiwa di mayapada. “ Hee, para dewata, bukankah Wisrawa sudah pernah diberitahu untuk tidak mengajarkan ilmu tersebut pada sembarang orang “.
Para dewata melaporkan hal tersebut kepada sang Betara Guru. “ Bila apa yang dilakukan Wisrawa, bisa nanti kayangan akan terbalik, manusia akan menguasai kita, karena telah sempurna ilmunya, sedangkan kita belum sempat dan mampu mempelajarinya “.
Sang Betara Guru merenungkan kebenaran peringatan para dewata tersebut. “ tidak cukup untuk mempelajari ilmu tanpa laku, Serat Sastrajendra dipagari sifat sifat kemanusiaan, kalau mampu mengatasi sifat sifat kemanusiaan baru dapat mencapai derajat para dewa. “ Tidak lama sang Betara menitahkan untuk memanggil Dewi Uma.untuk bersama menguji ketangguhan sang Begawan dan muridnya.
Hingga sesuatu ketika, sang Dewi merasakan bahwa pria yang dihadapannya adalah calon pendamping yang ditunggu tunggu. Biar beda usia namun cinta telah merasuk dalam jiwa sang Dewi hingga kemudian terjadi peristiwa yang biasa terjadi layaknya pertemuan pria dengan wanita. Keduanya bersatu dalam lautan asmara dimabukkan rasa sejiwa melupakan hakikat ilmu, guru, murid dan adab susila. Hamillah sang Dewi dari hasil perbuatan asmara dengan sang Begawan. Mengetahui Dewi Sukesi hamil, murkalah sang Prabu Sumali namun tiada daya. Takdir telah terjadi, tidak dapat dirubah maka jadilah sang Prabu menerima menantu yang tidak jauh berbeda usianya.
Tergelincir Dalam Kesesatan.
Musibah pertama, terjadi ketika sang senapati Jambumangli yang malu akan kejadian tersebut mengamuk menantang sang Begawan. Raksasa jambumangli tidak rela tahta Ngalengka harus diteruskan oleh keturunan sang Begawan dengan cara yang nista. Bukan raksasa dimuliakan atau diruwat menjadi manusia. Namun Senapati Jambumangli bukan tandingan, akhirnya tewas ditangan Wisrawa. Sebelum meninggal, sang senapati sempat berujar bahwa besok anaknya akan ada yang mengalami nasib sepertinya ditewaskan seorang kesatria.
Musibah kedua, Prabu Danaraja menggelar pasukan ke Ngalengka untuk menghukum perbuatan nista ayahnya. Perang besar terjadi, empat puluh hari empat puluh malam berlangsung sebelum keduanya berhadapan. Keduanya berurai air mata, harus bertarung menegakkan harga diri masing masing. Namun kemudian Betara Narada turun melerai dan menasehati sang Danaraja. Kelak Danaraja yang tidak dapat menahan diri, harus menerima akibatnya ketika Dasamuka saudara tirinya menyerang Lokapala.
Musibah ketiga, sang Dewi Sukesi melahirkan darah segunung keluar dari rahimnya kemudian dinamakan Rahwana (darah segunung). Menyertai kelahiran pertama maka keluarlah wujud kuku yang menjadi raksasi yang dikenal dengan nama Sarpakenaka. Sarpakenaka adalah lambang wanita yang tidak puas dan berjiwa angkara, mampu berubah wujud menjadi wanita rupawan tapi sebenarnya raksesi yang bertaring. Kedua pasangan ini terus bermuram durja menghadapi musibah yang tiada henti, sehingga setiap hari keduanya melakukan tapa brata dengan menebus kesalahan. Kemudian sang Dewi hamil kembali melahirkan raksasa kembali. Sekalipun masih berwujud raksasa namun berbudi luhur yaitu Kumbakarna.
Akhir Yang Tercerahkan.
Musibah demi musibah terus berlalu, keduanya tidak putus putus memanjatkan puaj dan puji ke hadlirat Tuhan yang Maha Kuasa. Kesabaran dan ketulusan telah menjiwa dalam hati kedua insan ini. Serat Sastrajendra sedikit demi sedikit mulai terkuak dalam hati hati yang telah disinari kebenaran ilahi. Hingga kemudian sang Dewi melahirkan terkahir kalinya bayi berwujud manusia yang kemudian diberi nama Gunawan Wibisana. Satria inilah yang akhirnya mampu menegakkan kebenaran di bumi Ngalengka sekalipun harus disingkirkan oleh saudaranya sendiri, dicela sebagai penghianat negeri, tetapi sesungguhnya sang Gunawan Wibisana yang sesungguhnya yang menyelamatkan negeri Ngalengka. Gunawan Wibisana menjadi simbol kebenaran mutiara yang tersimpan dalam Lumpur namun tetap bersinar kemuliaannya. Tanda kebenaran yang tidak larut dalam lautan keangkaramurkaan serta mampu mengalahkan keragu raguan seprti terjadi pada Kumbakarna. Dalam cerita pewayangan, Kumbakarna dianggap tidak bisa langsung masuk suargaloka karena dianggap ragu ragu membela kebenaran.
Melalui Gunawan Wibisana, bumi Ngalengka tersinari cahaya ilahi yang dibawa Ramawijaya dengan balatentara jelatanya yaitu pasukan wanara (kera). Peperangan dalam Ramayana bukan perebutan wanita berwujud cinta namun pertempuran demi pertempuran menegakkan kesetiaan pada kebenaran yang sejati.
nggalkan Komentar
FALSAFAH KEJAWEN
Pewarisan kawruh Kejawen atau falsafah Jawa dari generasi ke generasi berikutnya pada umumnya tidak disertai bahasa yang rasional dan mudah dipahami. Maka, sebagai akibatnya, kawruh Kejawen di masa kini banyak yang tidak dimengerti oleh orang Jawa sendiri. Bahkan kemudian banyak yang menganggap kawruh Kejawen sebagai klenik. Anggapan Kejawen sebagai tahayul atau klenik tersebut sudah pasti tidak nyaman dirasakan bagi kebanyakan orang Jawa. Oleh karena itulah, diperlukan penjelasan-penjelasan yang masuk akal tentang Kejawen guna menepis anggapan minor tersebut.
Untuk itulah, diperlukan sebuah usaha penjelasan sekaligus upaya menggugah kesadaran Jawa untuk kembali memiliki kedaulatan spiritual hingga kembali berjaya dalam peradaban umat manusia. Saatnya Jawa menyumbangkan cita-cita peradaban umat manusia yang ayem tentrem kerta raharja.
Jelas bahwa kawruh Kejawen adalah falsafah hidup orang Jawa. Merupakan sebuah kristalisasi pengalaman hidup orang Jawa sejak zaman prasejarah hingga zaman globalisasi saat ini. Sebagian besar merupakan hasil interaksi dan observasi orang Jawa dengan alam semesta di Pulau Jawa. Sudah barang tentu ditambah hasil interaksi dengan falsafah dan kebudayaan bangsa-bangsa lain yang berdatangan ke Jawa sejak ratusan tahun lalu.
Dikarenakan sifat alam tanah Jawa vulkanis subur, warga masyarakat semenjak dahulu hidup bercocok tanam. Cara hidup agraris menjadi nuansa falsafah dan kebudayaan orang Jawa selalu selaras dengan suasana agraris yang mengutamakan mencapai kondisi masyarakat yang laras, ayem tentrem, dan rukun. Dengan demikian, tumbuh kembangnya naluri nalar dan rasa pangrasa orang Jawa selalu memuat tujuan dan upaya mencapai situasi dan kondisi masyarakat yang laras ayem tentrem kerta raharja dan rukun. Karena memiliki dasar tujuan yang seperti itu, maka menjadikan orang Jawa memiliki watak lower dan bisa menerima siapa saja sebagai saudara.
Karena memiliki toleransi yang kuat, orang Jawa bisa menerima dengan baik masuknya falsafah dan kebudayaan bangsa lain. Selanjutnya malah bisa membaur dengan rukun. Konon orang Jawa pandai mensinergikan falsafah dan kebudayaan aslinya dengan semua falsafah dan kebudayaan lain yang diterima. Kejawen merupakan tuntunan atau ajaran hidup yang di dalamnya termasuk konsep kebertuhanan orang Jawa. Maka Kejawen juga mencakup masalah hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta seisinya yang khas orang Jawa. Sedemikian rumit dan luas cakupan Kejawen sehingga pada masa kini masyarakat Jawa sendiri banyak yang tidak memahami Kejawen itu sendiri. Bahwa teologi, mitologi, kepercayaan, tradisi, dan adat Jawa adalah masuk akal sering diabaikan, dianggap yang tidak-tidak. Oleh karena itulah, perlu pemahaman agar ada saling pengertian antar komponen bangsa.
Apapun anggapan orang tentang Kejawen, kenyataannya sejauh ini Kejawen sudah berhasil mengampu perjalanan masyarakat Jawa sejak ribuan tahun yang lalu hingga kini. Maka Kejawen pasti memiliki sisi positif. Buktinya Jawa merupakan salah satu bagian bumi yang padat penduduknya. Posisi Jawa untuk Indonesia sangat penting. Pulau Jawa yang luasnya cuma 6 persen luas daratan Indonesia, namun menampung 60 persen penduduk Indonesia. Dengan demikian, jelas bisa dibuktikan bahwa situasi dan kondisi di Jawa sangat nyaman bagi umat manusia untuk berkembang biak dan bermukim.
Kenyamanan itu salah satu penyebabnya adalah sistem kemasyarakatan Jawa yang beradab serta tidak senang konflik. Sistem kemasyarakatan sudah pasti terbangun oleh adanya falsafah hidup masyarakat yang tidak lain kawruh Kejawen. Begitu rupa beradab dan berbudayanya Jawa sehingga di pulau ini ada peninggalan tempat melaksanakan ritual agama seperti Borobudur yang megah dan Candi Prambanan yang anggun. Indah dan populis
Yang sangat menarik adalah berkembangnya agama Islam yang tumbuh subur di Jawa sampai-sampai dinyatakan bahwa umat Islam terbesar dalam jumlah di dunia ini adalah Indonesia. Perlu diingat bahwa 60 persen penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam tinggal di Jawa. Ingat juga tradisi halalbihalal pada hari raya Idul Fitri yang dikembangkan dari tradisi sungkeman khas Jawa. Selanjutnya berkembang pula menjadi tradisi mudik yang khas Jawa. Makna hari raya besar Islam ini menjadi indah dan populis. Kalau dikatakan bahwa Jawa sebelum masuknya agama-agama dari Asia daratan merupakan “zero zone” budaya kiranya tidaklah masuk akal. Karena banyak produk budaya Jawa yang kemudian mewarnai kebudayaan- kebudayaan Hindu, Budha, dan Islam. Di antaranya bangungan-bangunan candi dan masjid di Jawa yang khas dan tidak diketemukan di tempat asal agama-agama tersebut. Demikian pula produk kesenian Jawa berupa gamelan, wayang, seni tari, batik, dan lain sebagainya jelas merupakan asli Jawa yang mempunyai kualitas dunia.
Begitu kayanya ragam budaya Jawa yang merupakan hasil kreativitas masyarakat Jawa. Keragaman tersebut juga atas pengaruh kebudayaan pendatang sehingga tidak mudah menelusuri dan memilah serta memilih untuk menemukan yang asli Jawa. Namun begitu, masih bisa dikenali mengapa Jawa bisa menjadi media subur untuk tumbuh kembangnya agama-agama besar di dunia.
Meskipun cakupan falsafah Jawa atau kawruh Kejawen sedemikian luas meliputi seluruh aspek kehidupan, ada beberapa pokok pandangan Jawa yang bisa dijadikan wacana dialog peradaban dan budaya. Pandangan atau konsep dasar falsafah Jawa meliputi adanya Tuhan, jagat raya, asal-usul manusia, mitologi Jawa, tata peradaban dan laku budaya, tata penanggalan dan basa atau carakan Jawa. Berpijak pada konsep Jawa tersebut maka bisa dipaparkan sumbangan pemahaman dan pandangan atau paradigma baru tentang wawasan kebangsaan kita. Bahkan, besar kemungkinan untuk menopang tegaknya peradaban Nusantara di mata dunia.
Bahwa sampai saat ini peradaban dan budaya Bali telah mampu menundukkan hati nurani umat manusia seluruh dunia, maka Jawa yang memiliki akar peradaban dan budaya yang sama dengan Bali pasti mampu pula menundukkan hati nurani dunia. Kalau Bali diakui sebagai Pulau Dewata, maka meminjam istilah Prof Dr Damarjati, Jawa bisa jadi Tamansarinya dunia
Dalam literatur dan kaidah kebudayaan Jawa tidak ditemukan adanya pakem dalam kalimah doa serta tata cara baku menyembah Tuhan. Dalam budaya Jawa dipahami bahwa Tuhan Maha Universal dan kekuasaanNya tiada terbatas. Kejawen bukanlah agama, dalam falsafah kejawen yang ada hanyalah wujud “laku spiritual” dalam tataran batiniahnya, dan “laku ritual” dalam tataran lahiriahnya. Laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari laku spiritual. Ambil contoh misalnya mantra, sesaji, laku sesirih (menghindari laku pantangan) serta laku semedi atau meditasi. Banyak kalangan yang tidak memahami asal usul dan makna dari semua itu, lantas begitu saja timbul suatu asumsi bahwa mantra sama halnya dengan doa. Sedangkan sesaji, laku sesirih dan laku semedi dipersepsikan sama maknanya dengan ritual menyembah Tuhan. Asumsi dan persepsi ini salah besar. Menurut para pengamat, kaum akademisi dan budayawan, ada suatu unsur kesengajaan untuk mempersepsikan dan mengasumsikan secara tidak tepat dan melenceng dari makna yang sesungguhnya. Semoga hal itu bukan termasuk upaya politisasi sistem kepercayaan, untuk mendestruksi budaya Jawa yang sudah “mbalung sungsum” di kalangan suku Jawa, dengan harapan supaya terjadi loncatan paradigma kearifan lokal kepada paradigma asing yang secara naratif menjamin surga. Awal dari penggeseran dilakukan oleh bangsa asing yang akan menjalankan praktik imperialisme dan kolonialisme di bumi nusantara sejak ratusan tahun silam. Baiklah, terlepas dari semua anggapan, asumsi maupun persepsi di atas ada baiknya dikemukakan wacana yang mampu mengembalikan persepsi dan asumsi terhadap ajaran kejawen sebagaimana makna yang sesungguhnya. Setidaknya, kejawen dapat menjadi monumen sejarah yang akan dikenang dan dikenal oleh generasi penerus bangsa ini. Agar menumbuhkan semangat berkarya dan nasionalisme di kalangan generasi muda. Di samping itu ada kebanggaan tersendiri, sekalipun zaman sekarang dianggap remeh namun setidaknya nenek moyang bangsa Indonesia pernah membuktikan kemampuan menghasilkan karya-karya agung bernilai tinggi.
MELURUSKAN MAKNA
Mantra tidaklah sama maknanya dengan doa. Bila doa merupakan permohonan kepada Tuhan YME, sedangkan mantra itu umpama menarik picu senapan yang bernama daya hidup. Daya hidup manusia pemberian Tuhan Yang Mahakuasa. Pemberian sesaji, laku sesirih (mencegah) dan laku semedi memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang benar, baik dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah “memayu hayuning bawana”. Daya kehidupan manusia menjadi faktor adanya aura magis (gelombang elektromagnetik) yang melingkupi badan manusia. Aura magis memiliki sifatnya masing-masing karena perbedaan esensi dari unsur-unsur yang membangun menjadi jasad manusia. Unsur-unsur tersebut berasal dari bumi, langit, cahya dan teja yang keadaannya selalu dinamis sepanjang masa. Untuk menjabarkan hubungan antara sifat-sifat dan esensi dari unsur-unsur jasad tersebut lahirlah ilmu Jawa yang bertujuan untuk menandai perbedaan aura magis berdasarkan weton dan wuku.
Aura magis dalam diri manusia dengan aura alam semesta terdapat kaitan erat. Yakni gelombang energi yang saling mempengaruhi secara kosmis-magis. Dinamika energi yang saling mempengaruhi mempunyai dua kemungkinan yakni pertama; bersifat saling berkaitan secara kohesif dan menyatu (sinergi) dalam wadah keharmonisan, kedua; energi yang saling tolak-menolak (adesif). Laku sesirih (meredam segala nafsu) dan semedi (olah batin) merupakan sebuah upaya harmonisasi dengan cara mensinergikan aura magis mikrokosmos dalam kehidupan manusia (inner world) dengan aurora alam semesta makrokosmos (lihat juga dalam posting “Sejatinya Guru Sejati”). Agar tercipta suatu hubungan transenden yang harmonis dalam dimensi vertikal (pancer) antara manusia dengan Tuhan dan hubungan horisontal yakni manusia sebagai jagad kecil dengan jagad besar alam semesta.
PRINSIP KESEIMBANGAN, KESELARASAN & HARMONISASI
Sesaji atau sajen jika dipandang dari perspektif agama Abrahamisme, kadang dianggap berkonotasi negatif, sebagai biang kemusyrikan (penyekutuan Tuhan). Tapi benarkah manusia menyekutukan dan menduakan Tuhan melalui upacara sesaji ini ? Seyogyanya jangan lah terjebak oleh keterbatasan akal-budi dan nafsu golek menange dewe (cari menangnya sendiri) dan golek benere dewe (cari benernya sendiri). Maksud sesaji sebenarnya merupakan suatu upaya harmonisasi, melalui jalan spiritual yang kreatif untuk menselaraskan dan menghubungkan antara daya aura magis manusia, dengan seluruh ciptaan Tuhan yang saling berdampingan di dunia ini, khususnya kekuatan alam maupun makhluk gaib. Dengan kata lain sesaji merupakan harmonisasi manusia dalam dimensi horisontal terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Harmonisasi diartikan sebagai kesadaran manusia. Sekalipun manusia dianggap (menganggap diri) sebagai makhluk paling mulia, namun tidak ada alasan untuk mentang-mentang merasa diri paling mulia di antara makhluk lainnya. Karena kemuliaan manusia tergantung dari cara memanfaatkan akal-budi dalam diri kita sendiri. Bila akal-budi digunakan untuk kejahatan, maka kemuliaan manusia menjadi bangkrut, masih lebih hina sekalipun dibanding dengan binatang paling hina.
HARMONI & KESELARASAN MERUPAKAN WAHYU TUHAN
Dalam konteks kebudayaan Jawa, wahyu diartikan sebagai sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu karunia Tuhan yang diperoleh manusia secara gaib. Wahyu juga tidak dapat dicari, tetapi hanya diberikan oleh Tuhan, sedangkan manusia hanya dapat melakukan upaya dengan melakukan mesu raga dan mesu jiwa dengan jalan tirakat, bersemadi, bertapa, maladihening, dan berbagai jalan lain yang berkonotasi melakukan laku batin. Tapi tidak setiap kegiatan laku batin itu akan mendapatkan wahyu, selain atas kehendak atau anugrah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan wahyu menurut kamus Purwadarminta mempunyai pengertian suatu petunjuk Tuhan atau ajaran Tuhan yang perwujudannya bisa dalam bentuk mimpi, ilham dan sebagainya. Dalam konteks budaya Jawa, wahyu dipandang sebagai anugrah Tuhan yang sekaligus membuktikan bahwa Tuhan bersifat universal, Mahaluas tanpa batas, dan Tuhan yang Mahakasih tidak akan melakukan pilih kasih dalam menorehkan wahyu bagi siapa saja yang Tuhan kehendaki. Falsafah Jawa memandang suatu makna terdalam dari sifat hakekat Tuhan yang Maha Adil, yang memiliki konsekuensi bahwa wahyu bukanlah hak atau monopoli suku, ras, golongan, atau bangsa tertentu.
Mekanisme kehidupan di alam semesta adalah bersifat dinamis. Dinamika kehidupan berada dalam pola hubungan yang mengikuti prinsip-prinsip keharmonisan, keseimbangan, atau keselarasan (sinergi) jagad raya seisinya. Dinamika dan pola hubungan demikian sudah menjadi hukum atau rumus Tuhan Yang Maha Memelihara sebagai ANUGRAH terindah kepada semua wujud ciptaanNYA, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa.
WAHYU PURBA
Anugrah tersebut dalam terminologi Kejawen dikenal istilah Wahyu Purba. Kata Purba, menurut kamus Purwadarminta mempunyai arti memelihara. Wahyu Purba mempunyai pengertian, Dewa Wisnu atau sama hakekatnya dengan kebenaran Illahiah, adalah bersifat memelihara. Ini suatu pelajaran hidup yang mengandung “rumus Tuhan” bahwa di dalam kehidupan alam semesta dengan segala isinya termasuk juga manusia, semua dipelihara oleh kebenaran sejati, yakni kebenaran Illahi. Di mana kehidupan alam semesta dan manusia akan mengalami keselarasan, keselamatan, ketenteraman, kebahagiaan dan kesejahteraan apabila nilai kebenaran bisa dihayati dan ditegakkan dengan baik dan benar.
Walaupun manusia percaya bahwa hidup ini dipelihara oleh kebenaran Illahi atau kebenaran Tuhan, masih juga terdapat ketidakbenaran dan kejahatan yang dapat menimbulkan kekacauan dan mengganggu keselarasan, kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan. Semua itu terjadi sebagai akibat “kenekadan” manusia melakukan pelanggaran hukum kebenaran. Untuk memelihara ketenteraman dan kesejahteraan dunia maka dewa Wisnu turun ke dunia menitis pada Prabu Arjunawijaya (Arjunasasrabahu) raja Negara Maespati, dan kepada Ramawijaya, raja Negara Ayodya.
WAHYU DYATMIKA
Barang siapa yang berhasil membangun harmonisasi dan sinergi atau keselarasan energi antara “jagad kecil” yang ada di dalam diri pribadi (inner world) dengan “jagad raya” disebut sebagai orang yang sudah memperoleh wahyu dyatmika. Dyatmika berarti batin, atau hati, wahyu dyatmika artinya wahyu Tuhan yang diterima seseorang untuk memiliki daya linuwih meliputi daya cipta, daya rasa, dan daya karsa yang disebut sebagai prana. Prana dalam terminologi Jawa berbeda dengan perguruan tenaga prana sebagaimana dikenal masyarakat sebagai seni bela diri dan olah tenaga dalam.
HUBUNGAN MANTRA DENGAN PRINSIP KESELARASAN
Mantra adalah Teknologi Kuno
Perlu kami tegaskan lagi bahwa mantra BUKANLAH DOA, akan tetapi merupakan sejenis SENJATA atau ALAT berujud kata-kata atau kalimat sebagai “teknologi spiritual” tingkat tinggi hasil karya leluhur nusantara di masa silam. Mantra dibuat melalui tahapan spiritual yang tidak mudah, bentuknya laku prihatin, perilaku utama dan maneges kepada Tuhan, yang ditempuh dengan cara tidak ringan. Hasilnya beragam, secara garis besar ada dua jenis mantra (baca; senjata) yakni;
1. Khusus menurut fungsinya; hanya dapat digunakan untuk keperluan tertentu misalnya menaklukkan musuh di medan perang. Atau diperuntukkan sebagai alat “medis” sebagai mantra untuk penyembuhan.
2. Mantra khusus menurut sifatnya; dibagi dua; pertama, mantra yang hanya dapat BEKERJA jika digunakan untuk hal-hal sifatnya baik saja. Mantra jenis ini tidak dapat disalahgunakan untuk hal-hal buruk oleh si pemakai. Mantra jenis ini paling sering digunakan di lingkungan kraton sebagai salah satu tradisi turun temurun. Kedua; mantra yang bersifat umum, bebas digunakan untuk acara dan keperluan apa saja tergantung kemauan si pemakai. Ibarat pisau dapat digunakan sebagai alat bedah operasi, alat memasak, atau disalahgunakan untuk mencelakai orang. Namun mantra jenis ini setiap penyalahgunaannya pasti memiliki konsekuensi yang berat berupa karma atau hukuman Tuhan yang dirasakan langsung maupun kelak setelah ajal.
Citra Buruk Karena Pemahaman Yang Salah Kaprah
Terdapat pula kesalahan memaknai mantra secara simpang siur; di mana mantra dianggap sebagai hal yang selalu berhubungan dengan setan/makhluk halus dan bersifat negatif/hitam. Misalnya lafald komat-kamit yang diucapkan seorang dukun santet, itu bukanlah sejenis mantra, namun password atau kata kunci, atau kode isyarat berupa kata-kata untuk memanggil sekutunya yakni sejenis jin, “setan” atau makhluk gaib sebagai pesuruh agar mencelakai korbannya. Perlu saya luruskan bahwa yang demikian ini, bukan termasuk mantra. Lalu apakah substansi dari mantra itu sendiri ? Baiklah, berikut ini kami berusaha mendeskripsikan kronologi dan proses bagaimana mantra (teknologi kuno) dapat diciptakan oleh manusia zaman dulu yang banyak dicap menganut faham religi primitif.
Hamemayu Hayuning Bawono & RAT, serta Pangruwating Diyu
Di atas telah kami singgung sedikit mengenai PRANA, sebagai sinergisme dan harmonisasi energi vertikal-horisontal, mikro-makro kosmos, inner wolrd dengan alam semesta, jagad kecil dengan jagad besar. Mantra merupakan salah satu bentuk pendayagunaan prana. Khusus untuk mantra umum, agar supaya siapapun yang memanfaatkan mantra umum tidak menyalahgunakannya untuk hal-hal yang negatif, ajaran Jawa menekankan keharusan eling dan waspada. Sikap eling dan waspada akan memelihara seseorang dalam mendayagunakan prana yang berwujud mantra yang dimanfaatkan untuk kebaikan hidup bersama menggapai ketentraman dan kesejahteraan. Yang paling utama bilamana semua jenis mantra ditujukan sebagai upaya untuk keselarasan dan harmonisasi alam semesta dalam dimensi horisontal dan vertikal dengan Yang Transenden. Mantra adalah salah satu bentuk pencapaian dalam pergumulan laku spiritual “Sastra Jendra” sedangkan tujuannya yang mulia menjadi makna di balik “Hamemayu hayuning Rat, hamemayu hayuning bawono, lan pangruwating diyu” (lihat posting; “Puncak Ilmu Kejawen”). Menjadi satu kalimat dalam falsafah Jawa tingkat tinggi yakni “Sastra jendra, hayuning Rat, pangruwating diyu”. Yang tidak lain untuk menyebut pencapaian spiritual dalam konteks kemanunggalan diri dengan alam semesta (Hamemayu hayuning Bawono). Dalam rangka panembahan pribadi dimanifestasikan budi pekerti luhur (Hangawula kawulaning Gusti/Pangruwating diyu), keduanya BERPANGKAL dan BERUJUNG pada panembahan kepada Tuhan Yang Maha Tunggal (Hamemayu hayuning Rat). Dengan kata lain budi pekerti membangun dua dimensi jagad, yakni; jagad kecil (pribadi) dan jagad besar manembah kepada Tuhan YME.
Bentuk panembahan dalam pada tingkat tata lahir (sembah raga/syariat) dimanifestasikan dalam berbagai kearifan budaya yang menampilkan berbagai keindahan tradisi misalnya; upacara ruwat bumi seperti garebeg, suran, nyadranan, apitan dan sebagainya. Atau berbagai upacara kidungan, ritual gamelan, bedhaya ketawang, dan seterusnya. Intinya adalah rasa kebersamaan dalam manembah pada tingkat tata batin (sembah jiwa), menyatukan kekuatan hidup atau prana kehidupan untuk mewujudkan mantra-agung (mahamantra) yakni sastra jendra yang berfungsi membangun keseimbangan (balancing) dan keselarasan (harmonic) antara aura spiritual manunsia dengan aura spiritual jagad raya seisinya. Tujuan utama dari balancing dan harmonic jelas sekali jauh dari tuduhan subyektif musrik maupun bid’ah, jelas ia sebagai bentuk konkritisasi doa untuk mohon keselamatan bagi alam semesta dan seluruh isinya.
Sayang sekali, zaman semakin berubah, perilaku budi daya yang memiliki nilai kearifan (wisdom) yang tinggi, telah banyak ditinggalkan orang Jawa sendiri. Alasannya demi mikul duwur mendhem jero falsafah dan budaya asing. Atau takut oleh tuduhan-tuduhan subyektif, yang hanya berdasar prasangka buruk (su’udhon), dan tidak berdasarkan metode ilmiah maupun informasi lengkap dan jelas. Sebuah nasib yang tragis ! Tradisi yang masih dapat dijalankan pun akhirnya hilang nilai kesakralannya. Grebeg, suran, sadranan, apitan telah melenceng dari nilai luhur yang sesungguhnya yakni menyatukan prana kehidupan. Sebaliknya tradisi tersebut hanya sekedar menjadi tontonan murahan, menjadi kebiasaan yang diulang-ulang (custom), pemerintah melestarikan tardisi hanya karena bermotif materialistis laku dijual, dan menjadi daya tarik turis asing karena mungkin dianggap aneh dan lucu saja. Seaneh dan selucu cara bangsa ini memandang dan memahaminya.
Itulah, wujud “sejati” wong Jawa kang kajawan (ilang jawane), rib-iriban. Manusia telah menjadi seteru Tuhan, karena telah melanggar rumus (hukum) kodratulah, yakni harmonisasi dan keseimbangan alam semesta. Rusaknya prinsip keseimbangan alam semesta berakibat fatal dan kini dapat kita rasakan dan saksikan sendiri; hujan salah musim, jadwal musim kemarau-penghujan tidak disiplin, kekeringan, kebakaran, banjir, tanah longsor, elevasi suhu bumi, distorsi cuaca, hutan gundul, sungai banyak kering, satwa liar semakin langka dan mengalami kepunahan. Distorsi musim mengakibatkan gagal panen, hama tanaman, wabah penyakit aneh-aneh (pagebluk), serangan hawa panas dan hawa dingin secara ekstrim (el-nino & la-nina).

MANUNGGALING KAWULA LAN GUSTI MELALUI NGELMU SANGKAN PARANING DUMADI DAN NGELMU KESEMPURNAAN

A. PENDAHULUAN
1. Untuk menjawab”misteri” tentang “Manungggaling Kawula lan Gusti” terlebih dahulu menelusuri dan memahami beberapa petunjuk “laku” yang perlu diketahui terlebih dahulu sebagai pengetahuan dasar, agar tidak terjadi kesalahpahaman pengertian serta salah perilaku yang harus dipahami dan dimengerti benar-benar teori “laku” untuk mencapai tataran :”Manunggaling Kawula lan Gusti” (menyatunya insane dengan Tuhan Yang Maha Esa). Pada umumnya orang akan mengatakan tidak mungkin, dengan berbagai dalih dan argumentasi. Namun bagi manusia yang telah “Tinar Buka” dan memperoleh petunjuk dari pinisepuh yang telah mumpuni (menguasai ngelmu tersebut) maka kemungkinan itu dipastikan ada dan bias sebab manusia diberikan pengetahuan sedikit tentang rahasia Tuhan. Perbedaan pendapat mengenai hal tersebut pasti ada di samping ada yang bersikap dogmatis.
2. Di sini kita akan mencoba membahas berbagai pengertian dasar yang dikutip dari berbagai kitab suci Al-Qur’an, Kitab Suci Injil, Kitab Suci Weda, dan Ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Kebatinan, Kerohanian, Kejiwaan dan Kaweruh). Ternyata dari sumber-sumber tersebut mempunyai persamaan persepsi. Dengan demikian memberi petunjuk kepada umat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna khususnya bangsa Indonesia melalui leluhur kita yang mewariskan “Ngelmu Adiluhung” kepada kita, sehingga mereka dapat hidup berdampingan secara damai dan sejahtera abadi. Karena adanya persepsi yang sama, tujuan yang sama, maka kerukunan antar umat beragama, kerukunan antar pengahayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta kerukunan antar umat beragama dengan penganut kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dapat diciptakan di Indonesia karena adanya saling pengertian dan kesadaran sebagai sesame umat Tuhan Yang Maha Esa dengan segala ciptaannya. Agama dan Ngelmu Kejawen mempunyai tujuan yang sama, ialah iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan “Ngelmu Kejawen” dilanjutkan dengan “Manunggaling Kawula Lan Gusti”
3. Para leluhur kita dengan buku tuntunan “WEDHA TAMA” telah memberi petunjuk dengan bentuk tembang PUCUNG sebagai berikut : “Ngelmu iku kelakone kanti laku, lekase lawan khas, tegese khas nyantosani, setya budya, pengikise dur angkara” yang artinya (bahwa untuk menguasai ngelmu (ilmu kebatinan dan kesempurnaan) pelaksanaannya / cara mempelajarinya harus dengan ‘laku’ latihan fisik (jasmani dan rohani). Budi yang halus akan mengalahkan watak angkara murka).
4. Adakah ‘Ngelmu’ dan ‘Laku’ untuk mempelajari cara-cara untuk “Menyatu dengan Tuhan Yang Maha Esa (Ngelmu Manunggaling Kawula lan Gusti”? kiranya tidak berlebihan apabila diketengahkan tulisan ini terlebih dahulu mempelajari beberapa macam ajaran, di antaranya :
 Memahami ngelmu sangkan paraning dumadi
 Memahami ngelmu kesempurnaan
 Memahami dan mendalami ngelmu “manunggaling kawula lan gusti”
Dengan penjelasan ini maka cukuplah sebagai pendahuluan, kemana dan dari mana ’ngelmu’ tersebut sampai paham benar dan mengerti arahnya, sehingga tidak tumpang tindih/tumpangsuh, sehingga dapat benar-benar menguasai ‘ngelmu’ tersebut dengan sebaik-baiknya.
B. MEMAHAMI JATIDIRI BERTOLAK DARI NGELMU SANGKAN PARANING DUMADI
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna yang terdiri dari unsur :
- BADAN JASMANI
- BADAN ROHANI (ROH)
Dengan rincian penjelasan sebagai berikut :
• BADAN JASMANI
Badan jasmani terdiri dari 4 (empat) macam unsur sari dari :
1) Sari Bumi / Tanah
2) Sari Api / Panas
3) Sari Air
4) Sari Angin / Nafas
Badan jasmani tersebut oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dianugerahi panca indera sebagai alat komunikasi antara lain :
- Pendengaran melalui telinga
- Pengucap melalui mulut
- Penglihatan melalui mata
- Penciuman melalui hidung
- Perasa/perasaan melalui saraf otak
Badan jasamani tersebut oleh Tuhan Yang Maha Mulia diberi 4 (empat) macam nafsu :
1) Dari unsur Sari Bumi/Tanah : menumbuhkan unsur nafsu LAUWAMAH, yang memiliki sifat jail, serakah, mala, tamak dan sejenisnya.
2) Dari unsur Sari Api/Panas : menumbuhkan unsur nafsu AMARAH yang memiliki sifat beringas, mudah tersinggung, bertindak kekerasan, gelap mata dan lain sebagainya
3) Dari unsur Sari Air : menumbuhkan unsur SUFIAH dimana menumbuhkan hasrat keinginan untuk asmara, meminum minuman keras atau molimo (madat, main, minum, maling, madon) dan sejenisnya.
4) Dari unsur Udara/Nafas : menumbuhkan unsur MUTMAINAH yang memiliki watak narimo, watak suci, watak berbakti, watak kasihan, suka menolong dan lain-lain.
Kedua kelengkapan badan jasmani (panca indera dan nafsu) ini hanya merupakan pelengkap sarana penggerak yang belum sempurna. Padahal manusia diciptakan Tuhan yang paling sempurna, apa kekurangannya?
• BADAN ROHANI
Dalam badan rohani terdapat dua lapis yang terdiri dari Badan Rokh dan Cahaya Tuhan (Nur Muhammmad, lintang tagih, lintang johar, Nur Illahi dan sukma sejati) yang hidup tan kena ing pati. Untuk memperkuat dan meyakinkan kita semua, maka khususnya mengenai badan rohani tersebut dipersilahkan membaca ayat-ayat Kitab Suci antara lain :
1) Baca Al Isra’ (17 ayat 85) yang artinya : “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ROKH, katakanlah ROKH itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit saja”. Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan manusia tentang Rokh sangatlah sedikit, sangat terbatas, karena merupakan rahasia Tuhan Sang Pencipta Alam semesta dengan segala isinya.
2) Baca Al Hijr (15 ayat 29) yang artinya berbunyi “ Maka apabila aku tekah menyempurnakan dan telah meniupkan kedalam Rokh (ciptaan-Ku), maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud/ bersembahyang.
3) Baca Qaaf (50 ayat 16) : “Dan sesungguhnya Kami telah ciptakan manusia dan mengetahui apa yang telah dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat nadi lehernya” (Utusan Tuhan bersemayam di tempat dekat urat nadi leher manusia, dengan bukti penggerak sepanjang hidupnya). Jadi di samping rokh ada sesuatu yang ditiupkan oleh Tuhan kedalam Rokh yaitu Cahaya Tuhan (Nur Muhammmad, Nur Cahaya, lintang tagih, lintang johar, Nur Illahi dan sukma sejati)
4) Dapat disimpulkan bahwa meskipun manusia hanya diberi pengetahuan sedikit oleh Tuhan tentang rokh, namun dapat disimpulkan bahwa rokh yang bersemayam di dalam tubuh manusia adalah sama dengan CAHAYA TUHAN yang dapat menghidupi manusia. Tanpa CAHAYA tersebut manusia tidak akan hidup. Jadi HURIP TAN KENA ING PATI. Inilah yang harus kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa apabila manusia yang hidup di dunia fana ini MATI.
5) Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber dari pada sumber CAHAYA, adalah SANG HIDUP BESAR, satuan dari MAHA CAHAYA, dimana kilatan/pletikan CAHAYA yang bersemayam dalam diri manusia dapat menghidupi manusia, dapat mempergunakan panca indera dan nafsu untuk melaksanakan dharmanya di dunia. Dapatkah CAHAYA yang ada dalam diri manusia itu kembali kepada sumbernya MAHA CAHAYA? Belum pasti dapat apabila sepanjang hidupnya di dunia tidak mengerti caranya kembali pada sumber MAHA CAHAYA.
6) Baca Yahya (4-24) Injil Kristen, yang berbunyi “Allah itu Rokh adanya, maka orang menyembah Allah wajiblah dengan Rokh dan kebenaran. Makin jelas bahwa manusia bisa hidup karena CAHAYA TUHAN. Maka CAHAYA itulah yang wajib MENYEMBAH Tuhan, dan pada waktunya kembali kepada Tuhan dengan membawa amal perbuatan yang benar di hadapan Tuhan, bukan benar di hadapan manusia.
7) Kebenaran Tuhan adalah kebenaran sejati. Benering bener (pener). Karena hanya dengan kebenaran sejati, Rokh manusia dapat kembali kepada-Nya, setelah mempelajari Ngelmu Sagngkan Paraning Dumadi dan Ngelmu Kesempurnaan, kemudian melatih diri “Mati Sajroning Urip” Belajar mati sewaktu masih hidup di dunia.
C. HAKEKAT TUHAN
1. Baca AN-NUR (24 ayat 35) Al-Qur’an. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya seperti Misykat. Dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Itu merupakan bintang berkilau dinyalakan dengan pohon yang diberkati. Pohon Zaitun yang bukan di timur atau di barat yang minyaknya hamper-hampir menyala dengan sendirinya, walaupun tidak disentuh oleh api. CAHAYA DI ATAS CAHAYA Allah menuntun cahaya-Nya, siapa saja yang Dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Sesungguhnya Allah mengetahui segalanya.
2. Hakekat CAHAYA.
- NUR (cahaya) yang sebenarnya itu adalah Allah SWT sendiri
- Sebutan CAHAYA bagi selain Dia hanyalah majaz (kiasan/sanepan) sebenarnya tak ada wujud.
3. AN-NISA (4 ayat 174) dari Al Qur’an. Hai manusia telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu “CAHAYA” yang terang benderang.
4. YAHYA 12-46 (Injil Al-Kitab Kristen) yang berbunyi : AKU (Allah) adalah CAHAYA yang datang di dunia ini, supaya barang siapa yang kenal dengan Aku jangan tinggal di dalam gelap
5. Umat Budha Indonesia menyebut “SANG HYANG ADI BUDHA” bagi Tuhan Yang Maha Esa. SANG HYANG ADI BUDHA sebagai sumber dari semua sumber yang memancarkan sinarnya dan menciptakan dari pada diriNya sendiri 5 (lima) DHYANI BUDHA yang masing-masing mengandung unsur :
a. VAIROCONO : sumber CAHAYA AGUNG
b. AMITABHA : CAHAYA tanpa batas
c. RATNA SANBHAWA : PERMATA alam semesta
d. AMOGASIDHI : Maha Jadi yang tidak mengenal KEGELAPAN
e. AKSOBYA : sumber ketenangan
Dari agama Budha ini juga menggambarkan SANG HYANG ADI BUDHA adalah CAHAYA MAHA CAHAYA. Langgeng tan owah gingsir. Tan kena kinaya ngapa.
6. Umat Hindhu dalam “BHAGAWAD GHITA” menguraikan sebagai berikut : “Beri santaplah yang BERCAHAYA (Brahma Sang Pencipta Alam Semesta seisinya) mudah-mudahan engkau akan dikarunia/berkahi : dari jalan inilah akan tercapai jalan keselamatanmu yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu yang BERCAHAYA diberi santap koraban/sesaji, segala kenikmatan yang diharapkan umatNya”.
D. MEMAHAMI NGELMU KASAMPURNAN
1) Dari beberapa kitab suci tersebut jelaslah memberikan jawaban kepada kita akan kebenaran bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah MAHA CAHAYA, sumber pada sumber CAHAYA. Baik pengertian yang bersumber dari agama-agama maupun pengertian ajaran penghayatan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah sama. Bahkan lebih dari itu, ajaran pengahay kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa khususnya :
a. ngelmu sangkan paraning dumadi
b. ngelmu kasampurnan
c. ngelmu manunggaling kawula lan gusti
dapat menghantarkan insan (cahaya Tuhan) manusia kembali pada MAHA CAHAYA Tuhan Yang Maha Esa. Ngelmu ini sejak sebelumnya masuk ke persada bumi nusantara Indonesia telah dihayati sebagai bangsa Indonesia terutama para pemimpin negara (para Ratu/Raja). Oleh karena cahaya hidup yang oleh manusia disebut Nur Muhammad, Lintang Tagih, Lintang Johor, Inti Rokh yang hidup kekal abadi yang wajib kembali pada induk cahaya (Tuhan YME), maka menjadi kewajiban manusia untuk mengembalikan pada induknya. Apakah manusia dapat melaksanakan tugas ini? Jawabanya adalah “TIDAK DAPAT” kecuali telah memperoleh perkenan Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagai manusia pilihan/pethingan yang hidupnya selalu belajar kembali pada Tuhan Yang Maha Esa dengan cara “belajar mati sebelum waktunya tiba” atau “sinau mati sajroning urip”. Jika latihan ini telah mahir dan matinya memang karena dipanggil Tuhan Yang Maha Suci untuk kembali kehadirat-Nya, sedangkan benda-benda jasmaninya, nafsu-nafsu, panca indera, dan badan wadhak/tubuh manusia dikembalikan pada unsurnya masing-masing. Maka sempurnalah kematian manusia tersebut di atas.
2) Tidak semua manusia dapat mati sesempurna itu, meskipun ia telah belajar mati sebelum takdir tiba, namun kalau perilakunya di dunia tidak baik mencari kebenaran sejati, maka masih perlu menerima karmanya lagi untuk turun menjadi manusia lagi, yang disebut reinkarnasi. Hanya manusia-manusia terpanggil yang dapat kembali, untuk memenuhi tugasnya yang disebut pemakaman umat Islam “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” yang artinya asalnya dari Tuhan Yang Maha Esa kembalilah kepada Tuhan Yang Maha Esa.